14/10/11

makalah ulumul Quran ''Qiraat"


BAB I
PEBDAHULUAN

Bangsa Arab merupakan komunitas terbesar dengan berbagai suku termaktub didalamnya. Setiap suku memiliki dialek (lahjah) yang khusus dan berbeda dengan suku-suku lainnya. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan kondisi alam, seperti letak geografis dan sosio cultural pada masing-masing suku. Mereka menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa bersama (common language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan bentuk-bentuk interaksi lainnya.
Di sini, perbedaan-perbedaan lahjah itu membawa konsekuensi lahirnya bermacam-macam bacaan (qira’ah) dalam melafalkan al-Qur’an. Lahirnya bermacam-macam qira’ah itu sendiri, tidak dapat dihindarkan lagi. Oleh karena itu,. Sabdanya al-Qur’an itu diturunkan dengan menggunakan tujuh huruf (unzila hadza al-Qur’an ‘ala sab’ah ahruf) dan hadis-hadis lainnya yang sepadan dengannya.
. Makalah ini akan membahas tentang hal tersebut.
Adapun yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Sejarah qiraat
2. Bagaimana latar belakang timbulnya perbedaan qiraah.
3. Penyebab perbedaan qiraat
4. Apa saja bentuk qira’ah serta syarat-syaratnya.
5. Pengenalan ringkas 10 imam qiraat




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Sejarah Qiraat
Perkembangan ilmu Qiraat dianggap telah bermula sejak permulaan Islam Berbagai bentuk bacaan al-Quran telah wujud pada zaman Rasulullah s.a.w lagi. Umar Ibn al-Khattab telah mengadu kepada Rasulullah s.a.w tentang khilaf yang berlaku itu untuk mendapat jawapan. Namun Rasulullah mengiktiraf kedua-dua bentuk bacaan tadi dengan bersabda :-
“ Sesungguhnya al-Quran ini diturunkan dengan tujuh huruf dan bacalah kamu mengikut apa yang mudah darinya” (al-Bukhari &Muslim).
Hadith ini juga memberi maksud bahawa khilaf bacaan al-Quran adalah untuk memberi keringanan kepada seluruh umat Islam supaya mereka semua mampu membaca al Quran walau apa jenis bacaan dan lahjah (dialek) digunakan. Berdasarkan etimologi (bahasa), qiraah merupakan kata jadian (mashdar) dari kata kerja qiraah (membaca), jamaknya yaitu qiraat. Bila dirujuk berdasarkan pengertian terminology (istilah), ada beberapa definisi yang diintrodusirkan ulama :
•Menurutaz-Zarqani.
Az-Zarqani mendefinsikan qiraah dalam terjemahan bukunya yaitu : mazhab yang dianut oleh seorang imam qiraat yang berbeda dengan lainnya dalam pengucapan al-Qur’an serta kesepakatan riwayat-riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf-huruf ataupun bentuk-bentuk lainnya.
• Menurut Ibn al Jazari :
Ilmu yang menyangkut cara-cara mengucapkan kata-kata al-Qur’an dan perbedaan perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.
• Menurut al-Qasthalani :
Suatu ilmu yang mempelajari hal-hal yang disepakati atau diperselisihkan ulama yang menyangkut persoalan lughat, hadzaf, I’rab, itsbat, fashl, dan washl yang kesemuanya diperoleh secara periwayatan.
• Menurut az-Zarkasyi :
Qiraat adalah perbedaan cara mengucapkan lafaz-lafaz al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti takhfif (meringankan), tatsqil (memberatkan), dan atau yang lainnya.
• Menurut Ibnu al-Jazari :
Qira’at adalah pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat-kalimat Al-Qur’an dan perbedaannya dengan membangsakaanya kepada penukilnya. Perbedaan cara pendefenisian di atas sebenarnya berada pada satu kerangka yang sama, yaitu bahwa ada beberapa cara melafalkan Al-Qur’an walaupun sama-sama berasal dari satu sumber, yaitu Muhammad.
Dengan demikian, dari penjelasan-penjelasan di atas, maka ada tiga qira’at yang dapat ditangkap dari definisi diatas yaitu :

1.      Qira’at berkaitan dengan car penafalan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan salah seorang iman dan berbeda cara yang dilakukan imam-imam lainnya.
2.      Cara penafalan ayat-ayat Al-Qur’an itu berdasarkan atas riwayat yang bersambung kepada Nabi. Jadi, bersifat tauqifi, bukan ijtihadi
3.      Ruang lingkup perbedaan qira’at itu menyangkut persolan lughat, hadzaf,
B.       Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at
1. Latar Belakang Historis
       Qira’at sebenarnya telah muncul sejak zaman Nabi walaupun pada saat itu qira’at bukan merupakan sebuah disiplin ilmu, ada beberapa riwayat yang dapat mendukung asumsi ini, yaitu :
Menurut catatan sejarah, timbulnya penyebaran qira’at dimulai pada masa tabi’in, yaitu pad awal abad II H, tatkala para qari’ tersebar di berbagai pelosok, telah tersebar di berbagai pelosok. Qira’at-qira’at tersebut diajarkan secara turun-menurun dari guru ke murid, sehingga sampai  kepada imam qira’at baik yang tujuh, sepuluh atau yang empat belas.

2. Latar Belakang cara penyampaian (kaifiyat al-ada’)
Menurut analisis yang disampaikan Sayyid Ahmad khalil, perbedaan qira’at itu bermula dari bagaimana seorang guru membacakan qira’at itu kepada murid-muridnya. Hal itulah yang mendorong beberapa utama mencoba merangkum bentuk-bentuk perbedaan cara menghafalkan Al-Qur’an itu sebagai berikut :
a.       Perbedaan dalam I’rab atau harakat kalimat tanpa perubahan makna dan bentuk kalimat, misalnya pada firman Allah pada surat An-nisa’ ayat 37 tentang pembacaan “Bil Buhkhli” (artinya kikir), disini dapat dibaca dengan harakat “Fatha” pada huruf Ba’-nya, sehingga dibaca Bil Bakhli, dapat pula dibaca “Dhommah” pada Ba’-nya, sehingga menjadi Bil Bukhli.
b.      Perbedaan I’rab dan harakat (baris) kalimat sehingga mengubah maknanya, misalnya pada firman Allah surah Saba’ ayat 19, yang artinya “ Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami “. Kata yang diterjemahkan menjadi jauhkanlah diatas adalah “ba’id karena statusnya fi”il amar, maka boleh juga dibaca ba’ada yang berarti kedudukannya menjadi fi’il mahdhi artinya telah jauh
c.        Perbedaan pada perubahan huruf tanpa perubahan I’rab dan bentuk tulisannya, sedangkan maknanya berubah, misalnya pada firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 259, yang artinya “dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian kami menyusunnya kembali.”
d.      Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisannya, tetapi maknanya tidak berubah, misalnya pada firman Allah dalam surah Al-Qoria’ah ayat : 5, yang artinya “……..dan gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan “. Dalam ayat tersebut terdapat bacaan “kal-ih-ni” dengan “ka-ash-shufi” sehingga kata itu yang mulanya bermakna bulu-bulu berubah menjadi bulu-bulu domba.
e.        Perbedaan pada kalimat yang menyebabkan perubahan bentuk dan maknanya, misalnya pada ungkapan “thal in mandhud” menjadi “thalhin mandhud”
f.       Perbedaan dalam mendahulukan dan mengakhirkannya, misalnya pada firman Allah dalam surah Qof ayat : 19, yang artinya “dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya”.
g.      Perbedaan dengan menambahi dan mengurangi huruf, seperti pada firman Allah dalam surah al-Baqarah: 25, yang artinya “…surge-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.”
C. Penyebab Perbedaan Qira’at
Sebab-sebab munculnya beberapa qiraat yang berbeda adalah :
1. Perbedaan qiraat nabi, artinya dalam mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya,  nabi memakai beberapa versi qiraat.
2. Pengakuan dari nabi terhadap berbagai qiraat yang berlaku di kalangan kaum muslimin waktu itu, hal ini menyangkut dialek di antara mereka dalam mengucapkan kata-kata di dalam al-Qur’an. Contohnya ketika seorang Hudzail membaca di hadapan Rasul “atta hin”. Padahal ia menghendaki “hatta hin.
3. Adanya lahjah atau dialek kebahasaan di kalangan bangsa arab pada masa turunnya al-Qur’an.
4. Perbedaan syakh, harakah atau huruf. Contohnya pada surat al-Baqarah ayat 222.

D. Macam-Macam Dan Syarat-Syarat Qiraat
1. Macam-macam qiraat
• Dari segi kuantitas
1. Qiraah sab’ah (qiraah tujuh) Kata sab’ah artinya adalah imam-imam qiraat yang tujuh.
2. Qiraat Asyrah (qiraat sepuluh)
Yang dimaksud qiraat sepuluh adalah qiraat tujuh yang telah disebutkan di atas ditambah tiga qiraat
3. Qiraat Arba’at Asyarh (qiraat empat belas)
Yang dimaksud qiraat empat belas adalah qiraat sepuluh sebagaimana yang telah disebutkan di atas ditambah dengan empat qiraat lagi, yakni : al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), Muhammad bin Abdurrahman (w. 23 H), Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi and-Nahwi al-Baghdadi (w. 202 H), Abu al-Fajr Muhammad bin Ahmad asy-Syambudz (w. 388 H).s
• Dari segi kualitas
Berdasarkan penelitian al-Jazari, berdasarkan kualitas, qiraat dapat dikelompokkan dalam lima bagian.
1. Qiraat Mutawatir, yakni yang disampaikan sekelompok orang mulai dari awal sampai     akhir sanad, yang tidak mungkin bersepakat untuk berbuat dusta. Umumnya, qiraat yang ada masuk dalam bagian ini.
2. Qiraat Masyhur, yakni qiraat yang memiliki sanad sahih dengan kaidah bahasa arab dan tulisan Mushaf utsmani. Umpamanya, qiraat dari tujuh yang disampaikan melalui jalur berbeda-beda, sebagian perawi, misalnya meriwayatkan dari imam tujuh tersebut, sementara yang lainnya tidak, dan qiraat semacam ini banyak digambarkan dalam kitab-kitab qiraat.
3. Qiraat Ahad, yakni yang memiliki sanad sahih, tetapi menyalahi tulisan Mushaf Utsmani dan kaidah bahasa arab, tidak memiliki kemasyhuran dan tidak dibaca sebagaimana ketentuan yang telah ditetapkan.
4. Qiraat Syadz, (menyimpang), yakni qiraat yang sanadnya tidak sahih. Telah banyak kitab yang ditulis untuk jenis qiraat ini.
5. Qiraat Maudhu’ (palsu), seperti qiraat al-Khazzani
6. As-Suyuthi kemudian menambah qiraat yang keenam, yakni qiraat yang menyerupai hadits Mudraj (sisipan), yaitu adanya sisipan pada bacaan dengan tujuan penafsiran. Umpamanya qiraat Abi Waqqash.
7. Syarat-syarat Qiraat
Untuk menangkal penyelewengan qiraat yang sudah muncul, para ulama membuat persyaratan-persyaratan bagi qiraat yang dapat diterima. Untuk membedakan antara yang benar dan qiraat yang aneh (syazzah), para ulama membuat tiga syarat bagi qiraat yang benar. Pertama, qiraat itu sesuai dengan bahasa arab sekalipun menurut satu jalan. Kedua, qiraat itu sesuai dengan salah satu mushaf-mushaf utsmani sekalipun secara potensial. Ketiga, bahwa sahih sanadnya baik diriwayatkan dari imam qiraat yang tujuh dan yang sepuluh maupun dari imam-imam yang diterima selain mereka. Setiap qiraat yang memenuhi kriteria di atas adalah qiraat yang benar yang tidak boleh ditolak dan harus diterima. Namun bila kurang dari ketiga syarat diatas disebut qiraat yang lemah.
E. 10 Imam Qiraat
1. Imam Nafi’, Namanya Abu Ruaim Nafi’ bin Abdul Rahman bin Abi Nuaim Al Laithi. Berasal dan Asfahan. Merupakan imam Darul Hijrah. Wafat pada 169 hijrah. Rawinya yang terkenal iaitu Qalun dan Warsh.
2.  Imam Ibnu Kathir, Namanya Abdullah bin Kathir Al makki. Merupakan imam ahli Mekah.  Dilahirkan pada 45   hijrah dan wafat pada 120 hijrah. Rawinya yang terkenal iaitu Bazzi dan Qunbul.
3. Imam Abu Amru, Namanya Zaban bin Ala’ bin Ammar bin ‘Uryan Al Maazini Al  Tamimi Al Basri.
4. Imam Ibnu Amir Asy Syami, Namanya Abdullah bin Amir Asy Syami Al Yahsobi. Merupakan qadhi di Damsyiq ketika Khilafah Al Walid bin Abdul Malik.
5. Imam Asim,  Namanya Asim bin Abi An Najud Al Asadi. Digelar sebagai Aba Bakar.
6. Imam Hamzah, Namanya Hamzah bin Habib bin Ammarah Az Zayyat. Digelar Aba Ammarah.
7. Imam Kisai’, Namanya Ali bin Hamzah An Nahwi. Digelar sebagai Aba Hasan.
8. Imam Abu Jaafar, Namanya Yazid bin Qa’qa’ Al Makhzumi Al Madani. Diberi kuniah sebagai Abu Jafaar.
9. Imam Ya’aqub, Namanya Yaaqub bin Ishaq bin Yazid bin Abdullah bin Abi Ishaq Al Hadhrami Al Basri.
10. Imam Kholaf Al Asyir.
    Namanya Kholaf bin Hisyam bin Tha’lab bin Kholaf Al Asadi Al Baghdadi Al Bazzar.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Qiraat adalah perbedaan cara mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an baik menyangkut hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf.
2. Qiraat memiliki bermacam-macam, yakni qiraat sab’ah, qiraat asyrah dan qiraat arbaah   asyrah.
3. Qiraat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap penetapan suatu hukum akibat perbedaan kata, huruf dan cara baca.

B.     SARAN
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis saya selaku penyusun makalah tersebut mengharapkan saran, dan ide yang bisa membangun, dan melengkapi makalah tersebut,. Sebelumnya jika ada kesalahan mohon dimaafkan.




Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar